Jangan menyerah dengan kerasnya kehidupan
Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh
Hai teman-temanku gimana kabarnya? Insya Allah tetap semangat aja dan jangan pernah kendor dengan kerasnya kehidupan.
Memang dalam kerja-kerja yang kita lakukan tentu akan banyak hal yang kita dapatkan dan secara sadar membuat kita dewasa dalam menyikapi tribulasi dalam kehidupan.
Bahwa aku
kan tetap disini itu adalah pilihanku yang nggak
kan pernah kandas dengan rasa kelelahan yang menerpa karena setiap waktu aku beharap ada
kan selalu recharge dari Rabbku yang mulia.
Aku nggak pernah menyesal akan waktu yang terlewat karena itu semua telah menjadi pelajaran sejarah yang
kan tersimpan rapi untuk menjadi bukti bahwa aku pernah berusaha walau banyak rupa ku dapatkan. Walau Tak jarang itu hanya pengaharapan hampa
kan kenikmatan dunia.
Entah mungkin aku yang terlalu banyak berharap atau karena tuntutan kerja yang memaksa aku harus terus memutar aliran impuls dalam pusat syaraf ku
Oh mungkin kah aku
kan menggapai kemuliaan dengan tangan ku ataukah buaian pujian menghanyutkan aku ke lembah kehinaan.
Dimanakah jiwa yang dengan lantang pernah bersaksi “betul, aku menjadi saksi” menjawab pertanyaan yang bergema dari Raja Langit dan Bumi “Apakah aku Tuhanmu”
Lalu dimanakah jiwa yang ketika di seru dengan lantang “Hayya ‘alal Falaah”
Larikah engkau ketika dengan sayup ummat memanggil dengan rintih “dimanakah penyeru amar ma’ruf nahi mungkarnya ?
Haruskah diam ketika banyak wanita dan anak-anak meregang nyawa dan terenggut harga dirinya karena bala tentara syetan menggempur dada pemuda syahwat ?
Mungkin aku hanya debu di antara lautan
padang pasir, namun aku tak mau debu itu tertiup angin jauh tanpa daya.
Kan kujadikan debu ini untuk membutakan thagut dan bala syetan.
Jangan mentahkan raga yang hampir matang dengan cahaya Ilahi dengan aksi acuhmu ketika mereka datang dengan keluh-kesahnya.
Jangan layukan bunga yang bermekaran di taman bunga karena aksi maksiatmu yang engkau bungkus dengan “kesenangan semu”
Bukan salah ku ketika aku harus mundur, karena lajumu yang membahayakan keretaku
Namun itu karena aku sedang menghimpun tenaga untuk mendorong keretamu untuk lebih cepat lagi sebelum kereta kematian “hati” melesat dengan gila menujumu.
Namun mungkin kereta ku
kan melemah setelah sekian waktu, di saat itu ku harap engkau mengunci gerak dan lalu kau keluarkan tenagamu yang telah pulih demi menderek dan menyetakku dari kemunduran ku.
Entah mungkin karena kau berada di depan ku dan berjuta mata memandang perkasa akan lajumu, lantas engkau tinggal aku dengan ringan disaat aku terancam tergilas rayuan bala thagut yang menyergap hebat dari belakang.
Ku tuliskan syair ini bukan karena jiwa ku ringkih memelas apresiasimu
Tapi kutuliskan jiwa yang sedang dilanda cinta, cinta akan hal yang menggetarkan.
Jangan kau lihat ini lahir dari romantisme Ar Rijal yang kasmaran dengan manisnya iman, tetapi dari jiwa yang merindu
kan kehadiran Hawariyun yang berbaris.
luruskan barisan dan rapatkan shaff, hingga tak ada rongga tercipta untuk musuh.
Aku
kan menunggu datangnya hari yang tepat dimana saat itu aku tersenyum menyambut bidadari syurga yang datang dari Rabb ku untuk menyeka tetes keringat, ah mungkin kah
kan terasa hangat dan lembut atau lebih dari itu. Kini ……ku mengumpulkan mahar yang indah walau nanti terbalut kumuh akan keringat yang mendaki.
Ataukah di hari itu kau menyaksikan aku tersenyum untukmu tanpa henti karena syaraf-syaraf ku telanjur membeku tanpa detak.
Ketika jiwa melembut
kan taujih indah Rabbnya
Fren, ku kirimkan dengan nada sastra
Terinspirasi indahnya
Karya yang menggetarkan
“Ayat-ayat Cinta”
Kini getaran itu memaksa tuts kibor ku
Menuliskan ini.
Buatmu jiwa yang dilanda kerinduan
Kapan ni
kan berkakhir?
Lihat terminal pemberhentian itu
Tampak mendekat
Atau kah laju kita yang berusaha tertatih menggapainya.
Ku memang lemah,
Namun Ayat Rabbani menggempur dada.
Ketika jiwa menyanyikan lagu badar.
200406, 22:00, WIB, BKS, Home, InFront Comp.